Kategori

Pencarian


  Pencarian Lengkap

Menu Site

Artikel Populer

Pengirim Populer
  1. Ibnu Suar
  2. Ibnu Hamzah
  3. Ibnu Sauji
  4. Abu Ghooze
Tidak ada pengirim popular ditemukan.

Pesan Singkat
Silahkan kirim pesan singkat ..
Berita Terbaru » MuslimThinking Menerima Kiriman Tulisan Disiarkan 12/30/2008 MuslimThinking adalah website independent yang ingin menyuarakan kebenaran Islam yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.

MuslimThinking sangat terbuka menerima tulisan dari saudara-saudara.

Jazakallah Khairan Katsiran

» Muslimthinking Online Lagi Disiarkan 12/30/2008 Muslimthinking online lagi 

Artikel Fitur
» Mengoreksi Ajaran Tasawuf
Oleh Abu Ghooze | Disiarkan 06/16/2009 | Aqidah | Tanpa Rating

Pada hakekatnya ajaran tasawuf yang dianut umat Islam bercorak panteistis, hasil dari konsepsi filsafat yang disebut monisme. Yaitu konsepsi yang menyatakan bahwa Tuhan dan alam adalah satu. Bahkan jika diurut-urut lebih jauh, konsepsi monisme dengan panteismenya ternyata bersumber dari ajaran Hindu.

Drs H Abdul Qadir Djaelani seorang da’i yang pernah mendekam di penjara di masa Soeharto akibat menentang asa tunggal Pancasila dsb, produktif menulis buku (kini sekitar 14 buku diantaranya menanggapi pendapat-pendapat pembaharu/ neomodernis) ini merasa gemas melihat merebaknya tasawuf dan tarekat di kalangan umat Islam. Dia menulis kritik tajam terhadap tasawuf dalam buku yang berjudul Koreksi terhadap Ajaran Tasawuf diterbitkan GIP Jakarta, cet I 1996, 240 halaman. Dia menohok tokoh-tokoh tasawwuf yang ia nilai melenceng dari Islam seperti Al-Hallaj yang dibunuh oleh para ulama dan Ibnu Arabi yang dikafirkan oleh para ulama.

Berbagai metode ajaran tasawuf dibelejeti dalam buku ini, yang menurut Abdul Qadir (AQ) menyimpang dari Islam seperti zuhud, bai’at dan ketaatan mutlak, wasilah dan rabithah, serta uzlah dan khalwat. Ia juga menghujat praktik ekstase (junun) yang dilakukan para sufi (orang tasawuf).

» Ummat Kitabullah Vs Ummat Kitabul Ulama
Oleh Ibnu Hamzah | Disiarkan 06/16/2009 | Ilmu Fiqih | Tanpa Rating
Kaidah memahami Al-Quran adalah berurutan berdasarkan dari perangkat yang di gunakan.

Pertama memahami Al-Quran dengan perangkat Al-Quran itu sendiri. Metode ini menggunakan ayat-ayat lain di dalam Al Quran itu sendiri untuk menafsirkan sebuah ayat atau runtunan ayat yang mempunyai satu topik wacana. Prinsip ini dipegang dengan bersandarkan pada firman Allah QS Al Baqarah:2 bahwa tidak ada keraguan dalam Al-Quran. Sehingga tidak akan ada dua ayat pun yang saling bertentangan isinya. Kelihatannya sangat umum, tapi terus terang karena sangat umumnya, sampai nyaris dilupakan kaidah seperti ini.

Kedua, lebih memahami kembali pemahaman yang telah kita dapatkan dari kaidah pertama di atas dengan perangkat Al-Hadits. Prinsip ini berdasarkan pada Akhlaq Rasulullah adalah Al Quran itu sendiri. Akhlak adalah tahap ke-3 dari jajaran pendidikan Islam. 1) aqidah, 2) Ibadah, 3)Akhlaq, dimana akhlaq adalah bentukan dari ibadah. Akan baik akhlaknya jika beribadah dengan benar, akan buruk akhlaknya jika beribadah dengan tidak benar. Sehingga, akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Ini menjadi sebuah penilaian secara keseluruhan terhadap diri Rasulullah bahwa jelas aqidah beliau pasti paling lurus di antara manusia yang lain. Cara beribadah beliau pun juga paling benar di antara manusia yang lain, sehingga akhlak beliau adalah akhlaq yang paling mulia daripada manusia yang lain, yaitu seperti yang dituntunkan kitabullah Al Quranul Kariim. Artinya ketika telah mendapatkan wacana dari hasil langkah/metode menggunakan metode memahami "Al Quran dengan Al Quran", maka wacana tersebut di bawa menghadapi apa yang dilakukan Rasulullah terhadap kasus yang terdapat dalam wacana tersebut. Jika wacana tersebut ternyata bertentangan hanya dengan satu hadits shahih saja maka batal lah wacana tersebut. Proses harus di ulangi ke langkah pertama lagi yaitu "Al Quran dengan Al Quran".
» Karakteristik Millah Ibrahim dan Addinul Islam
Oleh Ibnu Hamzah | Disiarkan 06/14/2009 | Aqidah | Tanpa Rating
Kalo kita bandingin antara dua tokoh sejarah yaitu Ibrahim as. dan Namrudz, jelas Namrudz lah yang lebih gaul dan baek orangnya. Ibrahim itu kaku keras gak bisa gaul. Jadi.. emang millah (tradisi keyakinan) Ibrahim itu kaku, keras dan menolak tawar menawar. Sedangkan kalo namrudz toleran, tenggang rasa, merangkul, segala urusannya bersahaja dll.

Kedua tokoh ini musuh bebuyutan dalam sejarah tapi ternyata menurut Allah, Ibrahim itulah yang benar. Lantas, apakah kita juga punya hak pada suatu penentuan, dimana Allah telah meletakkan ketetapanNya pada penentuan itu ? Lebih banyak manusia yang mengambil hak ini.

Sifat & karakteristik namrudz dan millahnya itulah yg beredar di masyarakat manusia saat ini. Suatu masyarakat yang mengharapkan sifat-sifat toleran, tenggang-rasa, merangkul-berbagai-kalanga
n, dan berusaha untuk bertindak dalam urusan yg bersahaja, dll.

Semua aturan hidup yang bersifat seperti ini, pasti.. dan sangat pasti bersumber dari tradisi paganis. Karena emang namrudz sendiri penganut aturan hidup paganis.

Nilai2 millah ibrahim sama sekali bertentangan dgn nilai2 yang terkandung di millah paganis.
» Harta Yang Haram
Oleh Ibnu Suar | Disiarkan 06/11/2009 | Akhlaq | Tanpa Rating
Bismillahirrahmaanirrahiim
..

Harta yang di dapat dari korupsi itu haram.
Harta yang di dapatkan dari mencuri itu haram.
Harta yang di dapatkan dari berzina itu haram.
Harta yang di dapatkan dari riba itu haram.
dll.

Dari beberapa contoh di atas, berarti kita mendapatkan kesimpulan bahwa harta yang didapatkan dari amalan yang di larang oleh Allah adalah Haram.

Karena korupsi itu larangan Allah, karena mencuri itu di larang Allah, karena berzina itu dilarang Allah, karena riba itu di haramkan Allah.

Artikel Terbaru
» Ternyata Kalimat "Berbuat Jahat bisa membuat masuk neraka" itu Salah
Oleh Ibnu Sauji | Disiarkan 05/4/2009 | Aqidah | Tanpa Rating
QS As Sajdah 13. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. "

Melalui ayat ini kita bisa mengetahui ternyata manusia itu telah ditetapkan oleh Allah untuk memenuhi neraka. Waduh, ternyata kita memang ditakdirkan menjadi penghuni neraka. Berarti pernyataan "berbuat jahat bisa membuat orang masuk neraka" itu salah, karena tidak berbuat apa-apa pun kita sudah ditakdirkan untuk masuk neraka. Amalan jahat cuma membedakan tingkat lantai nerakanya saja. Na'udzubillah min dzalik.



» Empat Hal Yang Harus Di Hindari dalam Menegakkan Tauhid
Oleh Ibnu Suar | Disiarkan 01/4/2009 | Aqidah | Tanpa Rating
Ketika kita menelusuri ayat-ayat Al-Quran, maka kita akan mendapatkan bahwa Laa ilaaha illallah menuntut dari kita untuk berlepas diri atau meninggalkan 4 hal : Alihah, Arbab, Andad & Thogut



» Jangan Menghambat Gerak Dakwah Ini !!
Oleh Ibnu Suar | Disiarkan 01/1/2009 | Akhlaq | Tanpa Rating

Perlakuan sahabat terhadap Al-Zikra (Alquran) dan terhadap Rasulullah pun menunjukkan perbedaan yang sangat jauh. Betapa seringnya shahabat "mempertanyakan" sikap, perilaku atau hal-hal yang dibicarakan rasulullah kepada beliau (rasulullah)… tetapi.. tidak ada 1 record pun pada setiap shahabat "mempertanyakan" tentang ketentuan yang termuat di dalam Al-Zikra.

Maksudnya, tidak pernah shahabat bertanya misalnya "kenapa khamr harus diharamkan?" atau "kenapa kita harus menutup aurat", "kenapa pembagian waris seperti itu?" dll. Jelas sekali perbedaan perlakuan para sahabat terhadap Al-Zikra dan terhadap diri Rasulullah SAW. sendiri.




» Dusta Kepada Hadits Rasul Akan di Ancam dengan Neraka
Oleh Ibnu Suar | Disiarkan 01/1/2009 | Ilmu Hadits | Tanpa Rating

1. Dari abi hurairah ia berkata , telah bersabda Rasulullah SAW:
Siapa saja yang berdusta atas haditsku dengan sengaja, maka siap
sedialah tempat tinggalnya dari di neraka

(HSR. Bukhori dan Muslim dll, hadits mutawatir)

hadits mutawatir= diriwayatkan banyak orang yang ga mungkin
berkompromi untuk berbuat dusta




» Satu Kaedah Dalam Cabang Ilmu Hadits
Oleh Ibnu Suar | Disiarkan 01/1/2009 | Ilmu Hadits | Tanpa Rating

"Celaan/mendho’ ifkan suatu hadits di dahulukan daripada pujian/menshohihkan suatu hadits"

Maksud dari kaedah ini adalah : bila satu hadits terdapat dalam sanadnya seorang rowi yang di dho’ifkan (dilemahkan) oleh ahli hadits karena kurang syarat-syarat keadilannya atau ada cacat pribadinya, maka meskipun ada ahli hadits yang memuji dan men-shohihkannya maka menurut qaedah di atas yang mendho’ifkannya di dahulukan (yakni tidak boleh di pakai haditsnya sebagai hujjah karena dilemahkan).




Tidak ada artikel ditemukan.