Kalo kita bandingin antara dua tokoh sejarah yaitu Ibrahim as. dan Namrudz, jelas Namrudz lah yang lebih gaul dan baek orangnya. Ibrahim itu kaku keras gak bisa gaul. Jadi.. emang millah (tradisi keyakinan) Ibrahim itu kaku, keras dan menolak tawar menawar. Sedangkan kalo namrudz toleran, tenggang rasa, merangkul, segala urusannya bersahaja dll.
Kedua tokoh ini musuh bebuyutan dalam sejarah tapi ternyata menurut Allah, Ibrahim itulah yang benar. Lantas, apakah kita juga punya hak pada suatu penentuan, dimana Allah telah meletakkan ketetapanNya pada penentuan itu ? Lebih banyak manusia yang mengambil hak ini.
Sifat & karakteristik namrudz dan millahnya itulah yg beredar di masyarakat manusia saat ini. Suatu masyarakat yang mengharapkan sifat-sifat toleran, tenggang-rasa, merangkul-berbagai-kalangan, dan berusaha untuk bertindak dalam urusan yg bersahaja, dll.
Semua aturan hidup yang bersifat seperti ini, pasti.. dan sangat pasti bersumber dari tradisi paganis. Karena emang namrudz sendiri penganut aturan hidup paganis.
Nilai2 millah ibrahim sama sekali bertentangan dgn nilai2 yang terkandung di millah paganis
coba kita lihat Al-Mumtahanah:4
QS Al Mumtahanah 4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."
Bisa dilihat di ayat tsb bhw Allah sendiri yang "men-cap" bahwa tindakan yg dilakukan Ibrahim as., adalah suatu suri tauladan yang baik, yaitu:
(1) tindakan deklarasi permusuhan Ibrahim as. dan ummatnya kepada kaumnya yang paganis
(2) tindakan santunnya Ibrahim as. kpd orang tuanya, sekalipun ortunya itu adalah penganut paganis
Dua tindakan nabi Ibrahim as. inilah yang dicap oleh Allah sendiri sbg "suri tauladan" yang baik. Bukan Rasulullah Muhammad saw. yang men-cap, bukan Nabi Ibrahim as. sendiri yg men-cap
bukan siapapun...tapi Allah SWT. sendiri yang men-cap nya
Lalu kita pergi ke masa ketika Muhammad bin Abdullah belum menjadi nabi. Coba kita lihat, apakah masyarakat quraisy kala itu bersyahadat? shalat? shaum/puasa? berzakat? haji? dan berperang demi aturan hidup mrk?
Yap, mrk shalat, shaum, zakat, haji & berperang demi aturan hidup mrk (HR. Bukhari 108)
Mengenai syahadat, quraisy termasuk bangsa semit yg sangat kuat memegang tradisi nenek moyangnya. Siapa nenek moyang quraisy ini? ... yaitu Ibrahim as. dan Ismail as.
Sehingga, setiap anak kecil quraisy sudah dipastikan mengenal Allah, karena sudah menjadi tradisi baku mrk bersyahadat kpd Allah dan kpd moyangnya yaitu Ibrahim as. dan Ismail as.
Dokumen2 kuno bangsa quraisy ini memperlihatkan surat menyurat antar kabilah2 mereka, yang selalu.. dan sudah pasti selalu dibubuhi kalimat "BISMILLAH" sebagai kepala surat mrk.
Dan puisi2 kuno mrk banyak yg menampilkan kata2 spt WALLAH, HABIBULLAH dll sejenisnya spt itu
Lantas bukti lainnya, dari artifak2 mrk yg menyebutkan bhw berhala-hala mrk spt Latta & Uzza adalah 2 anak perempuan Allah yg mereka jadikan perantara kpd Allah.
Ok, semua itu membuktikan bhw quraisy sampai masa sebelum Muhammad bin Abdullah adalah sangat mengenal Allah, dan mereka melakukan ritual penyembahan pun kpd Allah, sekalipun dgn perantaraan berhala2 mrk.
Di masa turunnya islam, masyarakat di kota makkah ini sangat varian. Mrk merupakan masyarakat yg heterogen, baik dari sisi suku bangsa, kepercayaan, dll. Suku quraisy merupakan salah satu dari sekian jumlah suku di tanah makkah ini dan suku quraisy dianggap sbg pemimpin dari semua suku di tanah makkah ini, karena quraisy lah yang berasal dari keturunan asli nenek moyang bangsa jazirah arab tsb, yaitu Ibrahim as. dan Ismail as.
Makkah yg heterogen.. disana kala itu ada yahudi, nasrani, majusi, shabi'in, dan paganis2 lainnya. Tidak pernah menjadi persoalan dari masalah keyakinan yg ada di masyarakat heterogen tsb. Tidak ada konflik yg bersumber dari masalah perbedaan keyakinan diantara mereka sekali lagi... karena ini akan menjadi point sangat penting dalam memahami islam. Tidak ada konflik yg bersumber dari masalah perbedaan keyakinan diantara mereka.
Lantas datanglah dakwah islam ke tanah makkah tsb. Sejarah mencatat, konflik sudah terjadi dimasa paling awal datangnya dakwah islam itu di masyarakat makkah yg heterogen tsb
Kemudian timbul pertanyaan...
Jika islam adalah sebuah keyakinan, apakah mungkin akan menciptakan konflik sejak masa lahirnya pada masyarakat yang sangat tidak mempunyai masalah/konflik thdp perbedaan2 keyakinan sebelumnya ?
Mari kita tinjau apa yg dipahami sbg keyakinan baru tsb yg bernama islam. Jika islam adalah keyakinan, maka isi keyakinan islam tsb adalah keyakinan thdp Allah.
Bagaimana mungkin konflik bisa terjadi oleh suatu keyakinan baru yang memiliki substansi keyakinan yang sama dengan pimpinan tertinggi suku2 jazirah tsb?
Apalagi jika ditinjau dari sifat masyarakat makkahnya yang gk pernah punya persoalan konflik dalam masalah perbedaan keyakinan di antara mrk? ini sebuah indikator.
Artinya, mulai dari titik ini.. istilah "Islam adalah Keyakinan", mulai diragukan
bukan begitu?
Ok, lantas apa dunk kira2 yg menyebabkan islam telah membuat konflik sejak masa lahirnya thdp masyarakat makkah?
Keras ? keras dlm masalah apa? keyakinan? gak masalah. Yahudi terkenal keras dlm masalah keyakinannya, tapi gk pernah punya masalah konflik kala itu di makkah
Silakan liat 74:1-7 (wahyu kedua setelah gua hira)
QS Al Mudatsir 2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
Dari substansi "peringatan" inilah konflik mulai terjadi dgn quraisy selaku suku tertinggi bangsa jazirah apalagi selaku suku induk dimana Muhammad bin Abdullah dilahirkan
Inilah inti persoalan konflik yg terjadi antara islam dgn quraisy pemegang mandat millah nenek moyangnya Ibrahim as. & Ismail as.
Quraisy memandang Muhammad sbg org yg selalu menyalahkan tindak prilaku dan aturan2 pemerintahan yang dipegangnya.
Jika islam adalah keyakinan spt yg dipropagandakan kafir2 skrg ini dan yg menjadi pemahaman masyarakat yg mengaku2 ummat Muhammad skrg ini, maka islam gk akan pernah menjadi pemicu konflik antara quraisy dan Muhammad. Karena toh substansi keyakinan quraisy adalah keyakinan kpd Allah, dan substansi keyakinan Muhammad adalah juga keyakinan kpd Allah.
Padahal quraisy gk pernah konflik dgn yahudi, nasrani, shabi'in & sekalipun dgn para paganis2 lainnya dalam persoalan keyakinan.
Shg dapat mudah diketahui skrg, setelah turunnya wahyu kedua tsb bhw...
Islam menjadi pemicu konflik antara quraisy & Muhammad, karena islam berada pada segmen "sistem aturan kehidupan manusia".
Quraisy merasa tahta kehormatannya yg selama ratusan tahun terganggu oleh hadirnya islam tsb kala itu. Krn quraisy jelas memiliki "sistem tata aturan hidup manusia" sendiri, dan ternyata islam datang membawa sebuah "sistem tata aturan hidup manusia" sendiri yang bertolak belakang dgn apa yg dimiliki quraisy selama ratusan tahun itu. Terlebih Muhammad jelas2 telah membuat malu keluarga mrk sendiri krn Muhammad berasal dari garis keturunan darah mrk juga. Garis keturunan darah agung bangsa jazirah. Disinilah konflik terjadi yg membuktikan bhw Islam bukanlah Keyakinan, tapi Islam adalah "Sistem tata aturan hidup".
ini cuma salah satu jalur pembuktian mengenai hal tsb. masih ada lagi jalur pembuktian lainnya loh
to be continued.
credit to Aliph Arsalan