Muslim Thinking - http://muslimthinking.com
Karakteristik Millah Ibrahim dan Addinul Islam
http://muslimthinking.com/articles/11/1/Karakteristik-Millah-Ibrahim-dan-Addinul-Islam/Karakteristik-Millah-Ibrahim-dan-Addinul-Islam.html
Ibnu Hamzah
 
 
Oleh Ibnu Hamzah
Dikirim pada 06/14/2009
 
Kalo kita bandingin antara dua tokoh sejarah yaitu Ibrahim as. dan Namrudz, jelas Namrudz lah yang lebih gaul dan baek orangnya. Ibrahim itu kaku keras gak bisa gaul. Jadi.. emang millah (tradisi keyakinan) Ibrahim itu kaku, keras dan menolak tawar menawar. Sedangkan kalo namrudz toleran, tenggang rasa, merangkul, segala urusannya bersahaja dll.

Kedua tokoh ini musuh bebuyutan dalam sejarah tapi ternyata menurut Allah, Ibrahim itulah yang benar. Lantas, apakah kita juga punya hak pada suatu penentuan, dimana Allah telah meletakkan ketetapanNya pada penentuan itu ? Lebih banyak manusia yang mengambil hak ini.

Sifat & karakteristik namrudz dan millahnya itulah yg beredar di masyarakat manusia saat ini. Suatu masyarakat yang mengharapkan sifat-sifat toleran, tenggang-rasa, merangkul-berbagai-kalanga
n, dan berusaha untuk bertindak dalam urusan yg bersahaja, dll.

Semua aturan hidup yang bersifat seperti ini, pasti.. dan sangat pasti bersumber dari tradisi paganis. Karena emang namrudz sendiri penganut aturan hidup paganis.

Nilai2 millah ibrahim sama sekali bertentangan dgn nilai2 yang terkandung di millah paganis.

Karakteristik Millah Ibrahim dan Addinul Islam
Kalo kita bandingin antara dua tokoh sejarah yaitu Ibrahim as. dan Namrudz, jelas Namrudz lah yang lebih gaul dan baek orangnya. Ibrahim itu kaku keras gak bisa gaul. Jadi.. emang millah (tradisi keyakinan) Ibrahim itu kaku, keras dan menolak tawar menawar. Sedangkan kalo namrudz toleran, tenggang rasa, merangkul, segala urusannya bersahaja dll.

Kedua tokoh ini musuh bebuyutan dalam sejarah tapi ternyata menurut Allah, Ibrahim itulah yang benar. Lantas, apakah kita juga punya hak pada suatu penentuan, dimana Allah telah meletakkan ketetapanNya pada penentuan itu ? Lebih banyak manusia yang mengambil hak ini.

Sifat & karakteristik namrudz dan millahnya itulah yg beredar di masyarakat manusia saat ini. Suatu masyarakat yang mengharapkan sifat-sifat toleran, tenggang-rasa, merangkul-berbagai-kalanga
n, dan berusaha untuk bertindak dalam urusan yg bersahaja, dll.

Semua aturan hidup yang bersifat seperti ini, pasti.. dan sangat pasti bersumber dari tradisi paganis. Karena emang namrudz sendiri penganut aturan hidup paganis.

Nilai2 millah ibrahim sama sekali bertentangan dgn nilai2 yang terkandung di millah paganis

coba kita lihat Al-Mumtahanah:4

QS Al Mumtahanah 4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."

Bisa dilihat di ayat tsb bhw Allah sendiri yang "men-cap" bahwa tindakan yg dilakukan Ibrahim as., adalah suatu suri tauladan yang baik, yaitu:
(1) tindakan deklarasi permusuhan Ibrahim as. dan ummatnya kepada kaumnya yang paganis
(2) tindakan santunnya Ibrahim as. kpd orang tuanya, sekalipun ortunya itu adalah penganut paganis

Dua tindakan nabi Ibrahim as. inilah yang dicap oleh Allah sendiri sbg "suri tauladan" yang baik. Bukan Rasulullah Muhammad saw. yang men-cap, bukan Nabi Ibrahim as. sendiri yg men-cap
bukan siapapun...tapi Allah SWT. sendiri yang men-cap nya

Lalu kita pergi ke masa ketika Muhammad bin Abdullah belum menjadi nabi. Coba kita lihat, apakah masyarakat quraisy kala itu bersyahadat? shalat? shaum/puasa? berzakat? haji? dan berperang demi aturan hidup mrk?

Yap, mrk shalat, shaum, zakat, haji & berperang demi aturan hidup mrk (HR. Bukhari 108)

Mengenai syahadat, quraisy termasuk bangsa semit yg sangat kuat memegang tradisi nenek moyangnya. Siapa nenek moyang quraisy ini? ... yaitu Ibrahim as. dan Ismail as.

Sehingga, setiap anak kecil quraisy sudah dipastikan mengenal Allah, karena sudah menjadi tradisi baku mrk bersyahadat kpd Allah dan kpd moyangnya yaitu Ibrahim as. dan Ismail as.

Dokumen2 kuno bangsa quraisy ini memperlihatkan surat menyurat antar kabilah2 mereka, yang selalu.. dan sudah pasti selalu dibubuhi kalimat "BISMILLAH" sebagai kepala surat mrk.

Dan puisi2 kuno mrk banyak yg menampilkan kata2 spt WALLAH, HABIBULLAH dll sejenisnya spt itu

Lantas bukti lainnya, dari artifak2 mrk yg menyebutkan bhw berhala-hala mrk spt Latta & Uzza adalah 2 anak perempuan Allah yg mereka jadikan perantara kpd Allah.

Ok, semua itu membuktikan bhw quraisy sampai masa sebelum Muhammad bin Abdullah adalah sangat mengenal Allah, dan mereka melakukan ritual penyembahan pun kpd Allah, sekalipun dgn perantaraan berhala2 mrk.

Di masa turunnya islam, masyarakat di kota makkah ini sangat varian. Mrk merupakan masyarakat yg heterogen, baik dari sisi suku bangsa, kepercayaan, dll. Suku quraisy merupakan salah satu dari sekian jumlah suku di tanah makkah ini dan suku quraisy dianggap sbg pemimpin dari semua suku di tanah makkah ini, karena quraisy lah yang berasal dari keturunan asli nenek moyang bangsa jazirah arab tsb, yaitu Ibrahim as. dan Ismail as.

Makkah yg heterogen.. disana kala itu ada yahudi, nasrani, majusi, shabi'in, dan paganis2 lainnya. Tidak pernah menjadi persoalan dari masalah keyakinan yg ada di masyarakat heterogen tsb. Tidak ada konflik yg bersumber dari masalah perbedaan keyakinan diantara mereka sekali lagi... karena ini akan menjadi point sangat penting dalam memahami islam. Tidak ada konflik yg bersumber dari masalah perbedaan keyakinan diantara mereka.

Lantas datanglah dakwah islam ke tanah makkah tsb. Sejarah mencatat, konflik sudah terjadi dimasa paling awal datangnya dakwah islam itu di masyarakat makkah yg heterogen tsb

Kemudian timbul pertanyaan...
Jika islam adalah sebuah keyakinan, apakah mungkin akan menciptakan konflik sejak masa lahirnya pada masyarakat yang sangat tidak mempunyai masalah/konflik thdp perbedaan2 keyakinan sebelumnya ?

Mari kita tinjau apa yg dipahami sbg keyakinan baru tsb yg bernama islam. Jika islam adalah keyakinan, maka isi keyakinan islam tsb adalah keyakinan thdp Allah.

Bagaimana mungkin konflik bisa terjadi oleh suatu keyakinan baru yang memiliki substansi keyakinan yang sama dengan pimpinan tertinggi suku2 jazirah tsb?

Apalagi jika ditinjau dari sifat masyarakat makkahnya yang gk pernah punya persoalan konflik dalam masalah perbedaan keyakinan di antara mrk? ini sebuah indikator.

Artinya, mulai dari titik ini.. istilah "Islam adalah Keyakinan", mulai diragukan
bukan begitu?

Ok, lantas apa dunk kira2 yg menyebabkan islam telah membuat konflik sejak masa lahirnya thdp masyarakat makkah?

Keras ? keras dlm masalah apa? keyakinan? gak masalah. Yahudi terkenal keras dlm masalah keyakinannya, tapi gk pernah punya masalah konflik kala itu di makkah

Silakan liat 74:1-7 (wahyu kedua setelah gua hira)
QS Al Mudatsir 2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

Dari substansi "peringatan" inilah konflik mulai terjadi dgn quraisy selaku suku tertinggi bangsa jazirah apalagi selaku suku induk dimana Muhammad bin Abdullah dilahirkan

Inilah inti persoalan konflik yg terjadi antara islam dgn quraisy pemegang mandat millah nenek moyangnya Ibrahim as. & Ismail as.

Quraisy memandang Muhammad sbg org yg selalu menyalahkan tindak prilaku dan aturan2 pemerintahan yang dipegangnya.

Jika islam adalah keyakinan spt yg dipropagandakan kafir2 skrg ini dan yg menjadi pemahaman masyarakat yg mengaku2 ummat Muhammad skrg ini, maka islam gk akan pernah menjadi pemicu konflik antara quraisy dan Muhammad. Karena toh substansi keyakinan quraisy adalah keyakinan kpd Allah, dan substansi keyakinan Muhammad adalah juga keyakinan kpd Allah.

Padahal quraisy gk pernah konflik dgn yahudi, nasrani, shabi'in & sekalipun dgn para paganis2 lainnya dalam persoalan keyakinan.

Shg dapat mudah diketahui skrg, setelah turunnya wahyu kedua tsb bhw...
Islam menjadi pemicu konflik antara quraisy & Muhammad, karena islam berada pada segmen "sistem aturan kehidupan manusia".

Quraisy merasa tahta kehormatannya yg selama ratusan tahun terganggu oleh hadirnya islam tsb kala itu. Krn quraisy jelas memiliki "sistem tata aturan hidup manusia" sendiri, dan ternyata islam datang membawa sebuah "sistem tata aturan hidup manusia" sendiri yang bertolak belakang dgn apa yg dimiliki quraisy selama ratusan tahun itu. Terlebih Muhammad jelas2 telah membuat malu keluarga mrk sendiri krn Muhammad berasal dari garis keturunan darah mrk juga. Garis keturunan darah agung bangsa jazirah. Disinilah konflik terjadi yg membuktikan bhw Islam bukanlah Keyakinan, tapi Islam adalah "Sistem tata aturan hidup".

ini cuma salah satu jalur pembuktian mengenai hal tsb. masih ada lagi jalur pembuktian lainnya loh

to be continued.

credit to Aliph Arsalan

Karakteristik Millah Ibrahim dan Addinul Islam (Bagian 2)
Bismillahirrahmaannirrahiim

Pembahasan sebelumnya adalah jalur pembuktian pertama tentang bahwa islam yang dibawa oleh Muhammad sholallahu wa 'alaihi salam bukanlah merupakan keyakinan.

yang dibahas secara korelatif thdp karakteristik Millah Ibrahim as.. Yaitu sebuah millah (tradisi keyakinan ketuhanan) yang diperintahkan kpd Muhammad saw oleh Allah SWT agar/untuk dipakai oleh beliau sebagai landasan keyakinan beliau.

pembuktian kedua skrg ini lebih mengarah kpd analisa logis thdp sebuah keyakinan itu sendiri, dimana seseorang akan meyakini sesuatu manakala sesuatu itu telah lengkap/sempurna sebelum di yakini org tersebut tentunya

sbg contoh, kita tentu meyakini gula itu manis rasanya, karena gula memang telah diketahui memiliki rasa yg manis jauh sebelum kita berusaha meyakininya... bukan begitu?

contoh lain, kita tentu meyakini api itu panas, karena api memang telah diketahui panas lebih dulu, jauh sebelum kita berusaha meyakininya spt itu

apalagi, jika keyakinan itu ditujukan kpd sesuatu yg secara fisik tdk dapat di indera, maka sangat mustahil seorang manusia akan mau meyakini sesuatu yg spt itu secara utuh, terlebih dijadikan sbg landasan keimanan kecuali hanyalah dugaan2 semata saja

baik, saya mulai dengan evaluasi apakah islam adalah sebuah Keyakinan, spt yg digelontorkan dlm propaganda2 kafir dgn sebutan "Islam is a Religion" dan telah menyerap dalam pemahaman masyarakat yg mengaku2 sbg ummat Muhammad bhw memang islam adalah keyakinan

satu pertanyaan yang mudah, sederhana dan tidak bertele-tele, yaitu: "Jika Islam adalah Keyakinan, maka apa yang dijadikan Muhammad sbg keyakinan dalam hidupnya?"

banyak orang akan secara spontan menjawab "Keyakinan Muhammad tentu adalah Islam"

apakah benar keyakinan Muhammad saw., adalah Islam?

sedangkan Muhammad bin Abdullah menjadi Nabi dan Rasul utk menyampaikan Islam itu kepada manusia lainnya yang kemudian disebut sbg "Risalah Islam" dimana risalah ini merupakan sebutan bagi ajaran yang termaktub di dalam wahyu-wahyu Allah SWT kepada Muhammad saw

yang artinya bagaimana mungkin Muhammad menjadikan sesuatu yang beliau jalani sendiri sejak belum lengkap/sempurna sampai dengan lengkap/sempurna (penurunan wahyu2 Allah), sebagai suatu landasan keyakinan hidup beliau?

sekali lagi pertanyaannya saya munculkan agar lebih jelas "Jika Islam adalah Keyakinan, maka apa yang dijadikan Muhammad sbg keyakinan dalam hidupnya?"

kembali kpd analogi gula & api sebelumnya, jika anda adalah orang yg sedang meneliti ttg rasa gula & api, apakah di dalam perjalanan penelitian tsb, anda sudah meyakini bahwa gula itu manis rasanya, dan api itu panas rasanya?

ini sebuah paradoxial yang sangat luas penyesatan opini nya

jika kita melihat fakta2 yg tampil di dalam alquran itu sendiri bahwa, banyak sekali penyimpangan2 penerjemahan yang direfrensikan kpd kata "islam" itu sendiri.

sebagai contoh kata "muslimuun" banyak penterjemahan ke dlm bhs indonesia diartikan sbg "orang-orang yang beragama islam"

saat ini saya tidak ingin membahas arti kata "agama" itu sendiri, karena telah disimpulkan sebelumnya bahwa kata "agama" saat ini direfrensikan kpd kata "religion" dlm bhs inggris yg berkonotasi kpd suatu "keyakinan"

bagaimana penterjemah ini mengartikan kata "muslimuun" dgn penisbatan kpd kata "islam", padahal di dalam alquran itu sendiri dikatakan bahwa Ibrahim as., itu muslim, dan para nabi2 lainnya adalah muslim, sdgkan kata "islam" itu sendiri baru muncul di surat2 Madaniyyah atau wahyu2 yg turun di Madinah sekalipun kemudian merupakan sambungan dari surat2 Makiyyah tidak pernah ada data dari alquran itu sendiri yg menyatakan bhw Islam adalah adalah nama sebuah ajaran yang juga disandang oleh para nabi sebelum Rasulullah Muhammad saw.

hanya bersumber dari qiyas2 semacam >> Muslimuun = orang2 yang beragama islam << ini saja
kemudian banyak orang mengatakan bhw nama ajaran yg disandang sejak nabi Adam as., sampai Muhammad saw., adalah "ISLAM"

maka dengan begitu, lemah lah argumentasi orang2 yang menyatakan hal tsb

kembali kepada topiknya bahwa, tidak mungkin Muhammad akan menjadikan Islam sbg Keyakinannya sendiri, karena rentang penurunan risalah Islam itu sendiri (Al-Qur'an) terjadi justru di masa hidup beliau, yaitu sejak dari gua hira (Al-Alaq:1) sampai haji wada' beliau (Al-Maidah:3)

jika tetap dipaksakan bhw islam adalah keyakinan bagi Muhammad, maka yang paling logis dan objektif adalah; Muhammad saw., baru memiliki keyakinan yang bernama Islam tsb, SETELAH haji wada' beliau

tentu ini suatu konklusi yang paling tidak populer utk dipahami oleh masyarakat saat ini yang mengaku2 sebagai ummat Muhammad

karena, masyarakat spt ini sudah menancapkan opininya lebih dulu bahwa "Islam adalah Keyakinan"

secara sporadis, tanpa keinginan untuk memahami apa yang diikutinya itu

proses pemikiran dalam masyarakat tsb, sama atau mirip dgn proses pemikiran mrk dalam

pembahasan mengenai Adam = Manusia Pertama

yaitu, tancapkan opini bahwa Adam = Manusia pertama lebih dulu sebelum menganalisanya lebih teliti

shg segala hal yang menjadi parameter dalam penentuan analisanya, sudah diberi nilai baku lebih dulu dgn opini yang ada di dalam otak nya itu

padahal justru parameter2 itulah yang hendak diselidiki melalui analisa tsb

kesimpulan dari 2 pembuktian yang telah dipaparkan yaitu bahwa, "ISLAM BUKANLAH KEYAKINAN" tapi islam adalah "SISTEM TATA ATURAN KEHIDUPAN"

apakah sistem-tata-aturan-kehidupan juga bisa disebut sbg suatu "keyakinan" ?

ok lah kita ambil contoh dari 1 hukum tata aturan dari alquran itu sendiri

"waris bagi wanita adalah separoh bagian dari pria"

adakah 1 orang dari manusia yang bisa membantu saya utk menjadikan aturan yang berkonotasi matematis seperti itu menjadi suatu "keyakinan" bagi saya?

jika ada, saya mohon dengan sangat bantuannya

baik, 1 contoh lainnya

hukum takfir, silakan lihat An-Nisaa':150-151

150. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),
151. merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

di 2 ayat itu adalah salah satu kriteria yang Allah sendiri nyatakan
bukan Ibrahim as., bukan Muhammad saw., bukan saya, bukan anda sekalian, juga bukan siapapun baik malaikat, jin atau manusia lainnya... tapi yang meng-kriteria-kan takfir di 2 ayat tersebut adalah Allah sendiri

baik, saya sungguh2 minta pertolongan kpd 1 manusia saja di muka bumi ini.. tolong jadikan
kriteria semacam itu menjadi sebuah keyakian bagi saya

2 ayat itu adalah kriteria hukum
tolong jadikan sebuah keyakinan ?
Tidak mungkin bukan ?

ok, baiklah.. memang aturan tidak bisa dikonotasikan menjadi sebuah keyakinan aturan adalah aturan yang wajib dipatuhi, dijalani, ditegakkan, diimplementasikan bukan utk diyakini

tapi yang wajib utk diyakini adalah pihak yang membuat aturan tsb

disinilah yang disebut Millatuibrahiim (Tradisi Keyakinan Ketuhanan dari Ibrahiim as.)

adapun mengenai aturan spt contoh2 tadi disebut dengan Diinulislaam (Sistem tata aturan kehidupan Islam)

2 hal yang berbeda, dan di dalam alquran pun tidak pernah ada penyebutan MILLATULISLAAM, atau DIINULIBRAHIIM

sekali lagi 2 hal yang berbeda, namun dalam penterjemahannya ke dalam bhs indonesia diartikan ke dalam 1 kata yang sama, yaitu "AGAMA" (dalam terjemahan alquran kata Millah & Diin = agama)

sekian dulu pembahasan ini, mudah-mudahan Allah ridha memberikan manfaat kepada kita semua melalui tulisan saya yang sederhana ini

credit to Aliph Arsalan