Setelah sedikit perkenalan dan ramah-tamah akhirnya diskusi agama pun mengarah ke arah yang lebih serius. Dan aku hanya bermohon kepada Allah agar mengontrol diriku agar tidak keluar dari koridor syariat. Karena sebagai hamba Allah dan ummat Rasulullah, diri ini hanya diperintah untuk "menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, menyampaikan ilmu" selebihnya adalah urusan Allah. Ini sebuah part diskusi yang aku kritisi.
"Ada satu hal yang saya masih sayangkan. Kenapa setiap pembolehan terhadap bid'ah-bid'ah selalu di legitimasi kan kepada Sunan Kalijaga atau Wali Songo. Atau di kambing hitamkan kepada Sunan Kalijaga. Sehingga seakan-akan dengan membawa-bawa nama sunan kalijogo, perbuatan bid'ah seperti tahlilan untuk kematian, tujuh bulan, dsb menjadi di perbolehkan dengan alasan dakwah atau manfaat. Justru saya sebagai muslim, dan saya anggap sunan kalijaga itu seorang muslim, maka saya lebih memilih kalau sejarah tentang cara dakwah sunan kalijaga yang menggabungkan bid'ah, "yang jelas-jelas pak ustadz bilang tadi adalah budaya hindu-budha ("paganism- red"), yang tidak ada contohnya dari rasulullah sama sekali itu adalah "salah". Sejarah itu benar-benar salah. Atau Sunan Kalijaga disini dalam posisi ter-fitnah. Saya akan cenderung begitu jika saya mau berprasangka baik kepada sunan kalijaga. Tentu karena saya akan anggap Sunan Kalijaga adalah seorang muslim yang benar-benar ingin berdakwah sesuai yang dicontohkan Rasulullah. Tapi jikapun ada yang bisa membuktikan kalau sejarah itu benar, maka saya akan bilang "Sunan kalijaga" salah. Toh sejarahnya yang beredar dari 9 walisongo yang dikenal, tentang pemberatasan bid'ah, delapan sunan lainnya sepakat untuk tegas membuang dan hanya 1 orang yaitu sunan kalijaga yang meng"lunak" dalam hal budaya. Contohnya "wayang"-lah, tahlilan dll. Ingat kita di zaman "fitnah", sejarah nusantara saja banyak yang di manipulasi apalagi sejarah walisongo. Ini ga masalah. Toh sunan kalijaga itu juga manusia biasa, bisa salah. Yang ma'shum hanya Rasulullah. Kalau saya begitu saja". Itu pertama.
Selanjutnya kita tahu kan "Rasulullah" itu suri tauladan utama ? Tentu dong. Nah sekarang kita bandingkan atau sandingkan antara "cara dakwah Rasulullah" dengan "cara dakwah Sunan Kalijaga". Mana yang kita pilih ? Tentu Rasulullah dong. Sekarang kita lihat, apakah cara dakwah Rasulullah ada yang seperti Sunan Kalijaga ini ? Tidak ada. Nah maka "cara dakwah sunan kalijaga" kita buang. Kita ambil sunnah rasulullah. Inilah yang dimaksud "kembali kepada Sunnah Rasulullah."
Tentu saja penjelasan saya ini akan tidak mudah diterima begitu saja oleh yang lain. Dan mereka pun mulai melemparkan dalil sejarah.
"Kalau begitu bagaimana dengan Umar bin Khatab yang mempopulerkan "taraweh berjama'ah 30 hari". Dan mengatakan bahwa itu adalah sebaik-baik bid'ah."
Jujur. Pada saat itu saya agak-agak ingat bahwa sejarah itu juga adalah hasil manipulasi. Tapi saya tidak ingat dengan pasti mengenai hal itu. Hanya perkataan ini yang saya lontarkan.
"Ingat Umar adalah seorang sahabat dekat yang sangat taat kepada Rasulullah. Dan tentu beliau ingat dengan perkataan-perkataan Rasulullah salah satunya adalah hadits Rasulullah "sebaik-baik perkataan adalah Al Quran, sebaik-baik amalan adalah yang ada contohnya pada ku. Dan seburuk-buruk perbuatan adalah yang di-ada ada-kan. Dan semua bid'ah tempatnya di neraka." Dan saya yakin kalau Umar mengingat hadits ini. Tapi sekarang kita mendapatkan riwayat bahwa Umar mengatakan "Ini adalah sebaik-baik bid'ah". Dua hal yang bertolak belakang. Jika hadits Rasulullah tentang bid'ah adalah sahih, maka riwayat umar menjadi goyang atau dilemahkan. Maka kita berprasangka baik kepada Umar bahwa sejarah itu "salah". Umar di fitnah.
Tentu saja lagi-lagi penjelasan ini tidak begitu mudah diterima oleh yang lain. Dan memang ternyata saya dapat penjelasan dari abangku bahwa sejarah tentang Umar tersebut adalah Fitnah dari Alawiyyin. Dan tidak hanya sekali Umar di fitnah.
... insya Allah to be continued ...